Jumat, 04 November 2011

FILSAFAT TENTANG ALAM SEMESTA


BAB I
PENDAHULUAN

A.           Latar Belakang
Teks-teks keagamaan yang berfungsi sebagai landas dasar kepercayaan beragama jarang mengikutsertakan uraian-uraian filosofis maupun ilmiah tentang penciptaan alam semesta, dan dalam hal ini, Islam tidak terkecuali. Secara tegas al-Quran menerangkan sifat-sifat pencipta alam semesta serta cara penciptaannya, namun keterangan tersebut  tidak secara bulat terarah pada satu macam keterangan saja. Menurut pendapat al-, Asy’ari, penjelasan al-Quran tentang tuhan tidak mengandung keraguan sedikit pun, bahwa Tuhan berada diatas seluruh ciptaan-Nya; Dia adalah satu-satunya tuhan dan Dia tidak bersandar kepada apa pun yang ada di ala mini. Dia berdiri sendiri dan tidak membutuhkan bantuan manusia; Dia dapat saja memusnahkan kita semua dan menggantikan dunia ini dangan sesuatu yang lain tanpa berakibat pada kehancuran diri-Nya sendiri. Dia tidak harus menciptakan dunia, dan sekarang ini, meskipun dunia telah tercipta namun Dia dapat saja melupakan-Nya jika Dia mau berbuat begitu. Kita diberi tahu Tuhan benar-benar menciptakan dunia dan Dialah sumber atau asal-usul langit dan bumi, dan Dia pula membuat malam dan siang, matahari, bulan dan semua planet. Dialah yang mengatur musim semi yang dapat membangkitkan dan menghidupkan kembali alam serta menjadikan kebun-kebun indah adanya. Tuhan merancang alam serta seluruh ciptaan-Nya adalah untuk kepentingan manusia, meskipun Dia tidak harus berbuat seperti, dan apa yang Dia “minta” sebagai tindak-balasannya hanyalah mengerjakan shalat dan menyembah –Nya.[1]

Alam semesta merupakan suatu ruang atau tempat bagi manusia, tumbuh-tumbuhan, hewan, dan benda-benda. Langit sebagai atapnya dan bumi sebagainya lantainya. Jadi, alam semesta atau jagat raya adalah satu ruang yang maha besar, terdapat kehidupan yang biotik dan abiotik.
Manusia sebagai makhluk yang terdiri atas berbagai macam pola dan bentuk tetapi diantara makhluk tersebut. Tuhan menciptakan bermacam-macam makhluk tetapi yang paling istimewa dan sempurna yang membedakan manusia dengan makhluk lainnya adalah akal, agar manusia dapat membedakan baik atau buruknya sesuatu.
B.      Rumusan Masalah
v  Apa saja Penciptaan alam semesta?
v  Berapa Lamanya penciptaan alam semesta?
v  Apa Tujuan penciptaan alam semesta?
v  Isi-isi yang ada pada alam semesta?
C.      Tujuan Penulisan
v  Untuk mengetahui Apa saja Penciptaan alam semesta.
v  Untuk mengetahui Lamanya penciptaan alam semesta.
v  Mengetahui Tujuan penciptaan alam semesta.
v  Mengetahui Isi-isi yang ada pada alam semesta.







BAB II
PEMBAHASAN

v  ALAM SEMESTA
Menelaah isi Al-Qur’an yang menerangkan kejadian alam semesta. (Yaitu) pada hari kami gulung langit sebagai menggulung lembaran kertas. Sebagaimana kami telah memulai penciptaan pertama, begitulah kami akan menggulungnya.
 óOs9urr& ttƒ tûïÏ%©!$# (#ÿrãxÿx. ¨br& ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tFtR%Ÿ2 $Z)ø?u $yJßg»oYø)tFxÿsù ( $oYù=yèy_ur z`ÏB Ïä!$yJø9$# ¨@ä. >äóÓx« @cÓyr ( Ÿxsùr& tbqãZÏB÷sムÇÌÉÈ  
Artinya : Dan Apakah orang-orang yang kafir tidak mengetahui bahwasanya langit dan bumi itu keduanya dahulu adalah suatu yang padu, kemudian Kami pisahkan antara keduanya. dan dari air Kami jadikan segala sesuatu yang hidup. Maka Mengapakah mereka tiada juga beriman? (Q.S. Al-Anbiya : 30)[2]
1.    Penciptaan Alam Semesta
Pertama-tama marilah kita melihat  secara singkat bagaimana masalah yang menyangkut persoalan penciptaan itu timbul. Sebagai contoh, kita ditunjukan oleh al-Quran bahwa penciptaan alam semesta memakan waktu enam hari. Nah, lalu kita ingin tahu apakah ada sesuatu yang telah ada sebelum dunia ini diciptakan.[3] Kita juga mungkin ingin tahu apakah waktu itu dimulai dari hari pertama dari hari keenam itu ataukah waktu itu sudah ada sebelum Tuhan menciptakan alam semesta ini. Jika seseorang secara teliti membaca nash al-Quran itu sendiri, tampaknya tidak terdapat jawaban yang pasti terhadap persoalan-persoalan semacam itu. Ketika membicarakan persoalan penciptaan alam semesta, bahasa yang dipergunakan  disitu juga tidaklah cukup terang untuk dapat sampai pada suatu keterangan yang jelas meyakinkan, baik dalam satu sisi pemahaman yang lainnya.[4]
Secara umum alam semesta itu disebut langit dan bumi serta segala sesuatu yang ada diantara keduanya, semua sarjana kosmolog dari berbagai aliran dan teori sepakat bahwa kejadian alam semesta melalui proses yang panjang. Seperti yang diterangkan dalam Al-Qur’an Surah Fushilat ayat 11 :

§NèO #uqtGó$# n<Î) Ïä!$uK¡¡9$# }Édur ×b%s{ߊ tA$s)sù $olm; ÇÚöF|Ï9ur $uÏKø$# %·æöqsÛ ÷rr& $\döx. !$tGs9$s% $oY÷s?r& tûüÏèͬ!$sÛ ÇÊÊÈ  
Artinya : Kemudian Dia menuju kepada penciptaan langit dan langit itu masih merupakan asap, lalu Dia berkata kepadanya dan kepada bumi: “Datanglah kamu keduanya menurut perintah-Ku dengan suka hati atau terpaksa”. keduanya menjawab: “Kami datang dengan suka hati”. (Q.S. Fushilat : 11)[5]
Pada mulanya langit berupa asap, dengan demikian tidak mustahil apabila bumi dahulunya berasal dari asap atau gas. Beberapa masa langit yang masih berupa asap hingga menjadi benda langit yang sempurna untuk keseluruhan alam semesta dijadikan dalam enam masa, seperti disebutkan dalam Al-Qur’an surah Qaf Ayat 38:

ôs)s9ur $oYø)n=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur $yJßguZ÷t/ Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& $tBur
$uZ¡¡tB `ÏB 5>qäó9 ÇÌÑÈ  
Artinya : Dan Sesungguhnya telah Kami ciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dalam enam masa, dan Kami sedikitpun tidak ditimpa keletihan. (Q.S.Qaf : 38)[6]

Dan terdapat pula juga dalam surat As-Sajadah Ayat 4 :
ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur $tBur $yJßguZ÷t/ Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& ¢OèO 3uqtGó$# n?tã ĸöyèø9$# ( $tB Nä3s9 `ÏiB ¾ÏmÏRrߊ `ÏB <cÍ<ur Ÿwur ?ìÏÿx© 4 Ÿxsùr& tbr㍩.xtFs? ÇÍÈ  
Artinya : Allah lah yang menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas 'Arsy. Tidak ada bagi kamu selain dari padanya seorang penolongpun dan tidak (pula) seorang pemberi syafa'at. Maka Apakah kamu tidak memperhatikan? (Q.S As-Sajadah: 4).[7]
2.    Lamanya Penciptaan Alam Semesta
Tidak ada yang dapat memastikan masa lamanya penciptaan alam semesta. Dalam Al-Qur’an menerangkan enam masa pemprosesan sempurna. Firman Allah SWT :
¨bÎ) ÞOä3­/u ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ ÏNºuq»yJ¡¡9$# uÚöF{$#ur Îû Ïp­GÅ 5Q$­ƒr& §NèO 3uqtGó$# n?tã ĸöyèø9$# ( ãÎn/yムtøBF{$# ( $tB `ÏB ?ìÏÿx© žwÎ) .`ÏB Ï÷èt/ ¾ÏmÏRøŒÎ) 4 ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNà6š/u çnrßç6ôã$$sù 4 Ÿxsùr& šcr㍩.xs? ÇÌÈ  
Artinya : Sesungguhnya Tuhan kamu ialah Allah yang menciptakan langit dan bumi dalam enam masa, kemudian Dia bersemayam di atas ‘Arsy untuk mengatur segala urusan. tiada seorangpun yang akan memberi syafa’at kecuali sesudah ada izin-Nya. (Dzat) yang demikian Itulah Allah, Tuhan kamu, Maka sembahlah Dia. Maka Apakah kamu tidak mengambil pelajaran? (Q.S. Yunus : 3)[8]
Ayat ini menjelaskan bahwa alam semesta secara keseluruhan diciptakan dalam enam masa, langit dan bumi tercipta dalam enam masa termasuk apa-apa yang ada diantara keduanya, sebab tanpa itu bumi ini tidak berfungsi sebagaimana mestinya.[9]
Menurut Heraclitus menyatakan, “You can not step twice into the same river; for the fresh waters are ever flowing upon you” (engkau tidak dapat terjun ke sungai yang sama dua kali karena air sungai itu selalu mengalir). Alam semesta ini selalu dalam keadaan berubah; sesuatu yang dingin berubah jadi panas, yang panas berubah menjadi dingin.[10]
Segala yang ada dinamai: “Alam”. Ala mini 2 macam: Pertama dinamakan Alam nyata, yaitu semua alam yang ditangkap panca indra manusia, yaitu semua alam yang terdiri dari benda, baik benda padat, benda cair atau benda gas. Kedua ialah Alam Gaib, yaitu Alam yang tak dapat ditangkap dengan panca indra manusia, alam yang bukan terdiri dari benda.[11]
3.    Tujuan Penciptaan Alam Semesta
Semua mahluk memuliakan dan memuji Yang Maha Pencipta dengan cara-cara mereka sendiri. Mereka memenuhi tugas-tugasnya dengan senang dan bergairah. Sebagai contoh, matahari, yang tanpa terjatuh bahkan satu detik pun, bergerak mengitari garis edar, yang sudah digariskan untuknya. Sungai-sungai dengan antusias mengalir ke dalam laut-laut. Binatang-binatang, di bawah perintah dari manusia, melayaninya dengan satu ketaatan yang mutlak. Di samping itu, jika alam semesta tidak diciptakan, kelanggengan kesempurnaan dan kecantikan dari nama-nama dan sifat-sifat Allah SWT tidak akan pernah diketahui, karena hal tersebut hanya akan dapat diketahui oleh Allah (SWT) sendiri. Dengan menyatakan kecantikan-kecantikan rohani dari nama-nama dan sifat-sifat-Nya, Allah Yang Maha Kuasa, di samping memandang Kecantikan dan Kesempurnaan-Nya sendiri atas karya-karya-Nya sendiri, Dia juga memberi sebagian untuk diketahui para malaikat, manusia, dan jin, yang hal itu merupakan kehormatan dan anugerah yang besar bagi makhluk-Nya.[12]
Pertanyaan tentang “apakah perlu untuk menciptakan mahluk atau tidak?”, Allah (SWT) membuat pilihan Ketuhanan-Nya untuk menciptakan, dan pilihan ini sudah menjadi satu kemurahan yang besar untuk semua makhluk. 
Justru yang tak dapat masuk akal jika Allah swt tidak menciptakan semesta, karena pada ayat-Nya Allah swt, Dia menyebut sifat diri-Nya dengan sifat Shamad — ”Allah adalah Tuhan yang bergantung kepada-Nya segala sesuatu.” [13]
4.    Isi-isi yang ada pada alam semesta
Ï%©!$# t,n=y{ yìö7y ;Nºuq»yJy $]%$t7ÏÛ ( $¨B 3ts? Îû È,ù=yz Ç`»uH÷q§9$# `ÏB ;Nâq»xÿs? ( ÆìÅ_ö$$sù uŽ|Çt7ø9$# ö@yd 3ts? `ÏB 9qäÜèù ÇÌÈ   §NèO ÆìÅ_ö$# uŽ|Çt7ø9$# Èû÷üs?§x. ó=Î=s)Ztƒ y7øs9Î) çŽ|Çt7ø9$# $Y¥Å%s{ uqèdur ׎Å¡ym ÇÍÈ  
Artinya: (3)Dia yang telah menciptakan tujuh langit berlapis-lapis. kamu sekali-kali tidak melihat pada ciptaan Tuhan yang Maha Pemurah sesuatu yang tidak seimbang. Maka lihatlah berulang-ulang, Adakah kamu Lihat sesuatu yang tidak seimbang? (4)kemudian pandanglah sekali lagi niscaya penglihatanmu akan kembali kepadamu dengan tidak menemukan sesuatu cacat dan penglihatanmu itupun dalam Keadaan payah. (Q.S Al Mulk: 3-4)[14]
Di alam semesta, miliaran bintang dan galaksi yang tak terhitung jumlahnya bergerak dalam orbit yang terpisah. Meskipun demikian, semuanya berada dalam keserasian. Bintang, planet, dan bulan beredar pada sumbunya masing-masing dan dalam sistem yang ditempatinya masing-masing. Terkadang galaksi yang terdiri atas 200-300 miliar bintang bergerak melalui satu sama lain. Selama masa peralihan dalam beberapa contoh yang sangat terkenal yang diamati oleh para astronom, tidak terjadi tabrakan yang menyebabkan kekacauan pada keteraturan alam semesta.[15]

Di seluruh alam semesta, besarnya kecepatan benda-benda langit ini sangat sulit dipahami bila dibandingkan dengan standar bumi. Jarak di ruang angkasa sangatlah besar bila bandingkan dengan pengukuran yang dilakukan di bumi. Dengan ukuran raksasa yang hanya mampu digambarkan dalam angka saja oleh ahli matematika, bintang dan planet yang bermassa miliaran atau triliunan ton, galaksi, dan gugus galaksi bergerak di ruang angkasa dengan kecepatan yang sangat tinggi.

Kecepatan orbital bumi mengitari matahari kurang-lebih enam kali lebih cepat dari peluru, yakni 108.000 km/jam. (Andaikan kita mampu membuat kendaraan yang dapat bergerak secepat ini, kendaraan ini dapat mengitari bumi dalam waktu 22 menit.) Namun, angka-angka ini baru mengenai bumi saja. Tata surya bahkan lebih menakjubkan lagi. Kecepatan tata surya mencapai tingkat di luar batas logika manusia. Di alam semesta, meningkatnya ukuran suatu tata surya diikuti oleh meningkatnya kecepatan. Tata surya beredar mengitari pusat galaksi dengan kecepatan 720.000 km/jam. Kecepatan Bima Sakti sendiri, yang terdiri atas 200 miliar bintang, adalah 950.000 km/jam di ruang angkasa.[16]

Kecepatan yang luar biasa ini menunjukkan bahwa hidup kita berada di ujung tanduk. Biasanya, pada suatu sistem yang sangat rumit, kecelakaan besar sangat sering terjadi. Namun, seperti diungkapkan Allah dalam ayat di atas, sistem ini tidak memiliki “cacat” atau “tidak seimbang”. Alam semesta, seperti juga segala sesuatu yang ada di dalamnya, tidak dibiarkan “sendiri” dan sistem ini bekerja sesuai dengan keseimbangan yang telah ditentukan Allah.
ßìƒÏt/ ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÇÚöF{$#ur ( 4¯Tr& ãbqä3tƒ ¼çms9 Ó$s!ur óOs9ur `ä3s? ¼ã&©! ×pt6Ås»|¹ ( t,n=yzur ¨@ä. &äóÓx« ( uqèdur Èe@ä3Î/ >äóÓx« ×LìÎ=tæ ÇÊÉÊÈ   ãNà6Ï9ºsŒ ª!$# öNä3š/u ( Iw tm»s9Î) žwÎ) uqèd ( ß,Î=»yz Èe@à2 &äó_x« çnrßç6ôã$$sù 4 uqèdur 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ×@Å2ur ÇÊÉËÈ   žw çmà2Íôè? ㍻|Áö/F{$# uqèdur à8Íôムt»|Áö/F{$# ( uqèdur ß#Ïܯ=9$# 玍Î6sƒø:$# ÇÊÉÌÈ   ôs% Nä.uä!%y` ãÍ¬!$|Át/ `ÏB öNä3În/§ ( ô`yJsù uŽ|Çö/r& ¾ÏmÅ¡øÿuZÎ=sù ( ô`tBur }ÏJtã $ygøŠn=yèsù 4 !$tBur O$tRr& Nä3øn=tæ 7áÏÿpt¿2 ÇÊÉÍÈ  

Artinya: “Dia Pencipta langit dan bumi. Bagaimana Dia mempunyai anak padahal Dia tidak mempunyai isteri. Dia menciptakan segala sesuatu; dan Dia mengetahui segala sesuatu. (Yang memiliki sifat-sifat yang) demikian itu ialah Allah Tuhan kamu; tidak ada Tuhan selain Dia; Pencipta segala sesuatu, maka sembahlah Dia; dan Dia adalah Pemelihara segala sesuatu. Dia tidak dapat dicapai oleh penglihatan mata, sedang Dia dapat melihat segala yang kelihatan; dan Dialah Yang Maha Halus lagi Maha Mengetahui. Sesungguhnya telah datang dari Tuhanmu bukti-bukti yang terang; maka barangsiapa melihat (kebenaran itu), maka (manfaatnya) bagi dirinya sendiri; dan barangsiapa buta (tidak melihat kebenaran itu), maka kemudharatannya kembali kepadanya.” (QS. AlAn’am: 101-104)[17]

 Gunung Mencegah Gempa Bumi
t,n=yz ÏNºuq»yJ¡¡9$# ÎŽötóÎ/ 7uHxå $pktX÷rts? ( 4s+ø9r&ur Îû ÇÚöF{$# zÓźuru br& yÏJs? öNä3Î/ £]t/ur $pkŽÏù `ÏB Èe@ä. 7p­/!#yŠ 4 $uZø9tRr&ur z`ÏB Ïä!$yJ¡¡9$# [ä!$tB $oY÷Gu;/Rr'sù $pkŽÏù `ÏB Èe@à2 8l÷ry AOƒÍx. ÇÊÉÈ  
Dia menciptakan langit tanpa tiang yang kamu melihatnya dan Dia meletakkan gunung-gunung (di permukaan) bumi supaya bumi itu tidak menggoyangkan kamu; dan memperkembangbiakkan padanya segala macam
                                                                    [18] jenis binatang.” (QS. Luqman:10)
tA$t7Ågø:$#ur #YŠ$s?÷rr& ÇÐÈ  
Artinya: “Bukankah Kami telah menjadikan bumi itu sebagai hamparan dan gunung-gunung sebagai pasak?” (QS. An-Naba:7)[19]

Informasi yang diperoleh melalui penelitian geologi tentang gunung sangatlah sesuai dengan ayat Al Quran. Salah satu sifat gunung yang paling signifikan adalah kemunculannya pada titik pertemuan lempengan-lempengan bumi, yang saling menekan saat saling mendekat, dan gunung ini “mengikat” lempengan-lempengan tersebut. Dengan sifat tersebut, pegunungan dapat disamakan seperti paku yang menyatukan kayu. Selain itu, tekanan pegunungan pada kerak bumi ternyata mencegah pengaruh aktivitas magma di pusat bumi agar tidak mencapai permukaan bumi, sehingga mencegah
magma menghancurkan kerak bumi.[20]

Air Laut Tidak Saling Bercampur

ylttB Ç`÷ƒtóst7ø9$# Èb$uÉ)tGù=tƒ ÇÊÒÈ   $yJåks]÷t/ Óˆyöt/ žw Èb$uÉóö7tƒ ÇËÉÈ  

Artinya: “Dia membiarkan dua lautan mengalir yang keduanya kemudian bertemu, antara keduanya ada batas yang tidak dilampaui oleh masing-masing.”(QS.Ar-Rahman:19-20)[21]

Pada ayat di atas ditekankan bahwa dua badan air bertemu, tetapi tidak saling bercampur akibat adanya batas. Bagaimana ini dapat terjadi? Biasanya, bila air dari dua lautan bertemu, diduga airnya akan saling bercampur dengan suhu dan konsentrasi garam cenderung seimbang. Namun, kenyataan yang terjadi berbeda dengan yang diperkirakan. Misalnya, meskipun Laut Tengah dan Samudra Atlantik, serta Laut Merah dan Samudra Hindia secara fisik saling bertemu, airnya tidak saling bercampur. Ini karena di antara keduanya terdapat batas. Batas ini adalah gaya yang disebut “tegangan permukaan”.[22]

Langit Tujuh Lapis

ª!$# Ï%©!$# t,n=y{ yìö6y ;Nºuq»oÿxœ z`ÏBur ÇÚöF{$# £`ßgn=÷WÏB ãA¨t\tGtƒ âöDF{$# £`åks]÷t/ (#þqçHs>÷ètFÏ9 ¨br& ©!$# 4n?tã Èe@ä. &äóÓx« ֍ƒÏs% ¨br&ur ©!$# ôs% xÞ%tnr& Èe@ä3Î/ >äóÓx« $RHø>Ïã ÇÊËÈ  

Artinya: “Allah-lah yang menciptakan tujuh langit dan seperti itu pula bumi.” (QS. Ath-Thalaq:12)[23]

Dalam Al Quran Allah menyebutkan tujuh surga atau langit. Ketika ditelaah, atmosfer bumi ternyata terbentuk dari tujuh lapisan. Di atmosfer terdapat suatu bidang yang memisahkan lapisan dengan lapisan. Berdasarkan Encyclopedia Americana (9/188), lapisan-lapisan yang berikut ini bertumpukan, bergantung pada suhu.

·         Lapisan pertama TROPOSFER: Lapisan ini mencapai ketebalan 8 km di kutub dan 17 km di khatulistiwa, dan mengandung sejumlah besar awan. Setiap kilometer suhu turun sebesar 6,5°C, bergantung pada ketinggian. Pada salah satu bagian yang disebut tropopause, yang dilintasi arus udara yang bergerak cepat, suhu tetap konstan pada –57°C.

·         Lapisan kedua STRATOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 50 km. Di sini sinar ultraviolet diserap, sehingga panas dilepaskan dan suhu mencapai 0°C. Selama penyerapan ini, dibentuklah lapisan ozon
Yang penting bagi kehidupan

·         Lapisan ketiga MESOSFER: Lapisan ini mencapai ketinggian 85 km. Di sini suhu turun hingga –100°C.

·         Lapisan keempat TERMOSFER: Peningkatan suhu berlangsung lebih lambat

·         Lapisan kelima IONOSFER: Gas pada lapisan ini berbentuk ion. Komunikasi di bumi menjadi mungkin karena gelombang radio dipantulkan kembali oleh ionosfer

·         Lapisan keenam EKSOSFER: Karena berada di antara 500 dan 1000 km, karakteristik lapisan ini berubah sesuai aktivitas matahari.

·         Lapisan ketujuh MAGNETOSFER: Di sinilah letak medan magnet bumi. Penampilannya seperti suatu bidang besar yang kosong. Partikel subatom yang bermuatan energi tertahan pada suatu daerah yang disebut sabuk radiasi Van Allen.[24]




BAB III
PENUTUP

·           KESIMPULAN
Allah menciptakan alam semesta ini bukan untukNya, tetapi untuk seluruh makhluk yang diberi hidup dan kehidupan. Sebagai pencipta dan sekaligus pemilik, Allah mempunyai kewenangan dan kekuasaan untuk melestarikan dan menghancurkannya tanpa diminta pertanggungjawaban oleh siapapun. Namun begitu, Allah telah mengamanatkan alam seisinya dengan makhlukNya yang patut diberi amanat itu, yaitu MANUSIA. Dan oleh karenanya manusia adalah makhluk Allah yang dibekali dua potensi yang sangat mendasar, yaitu kekuatan fisi dan kekuatan rasio, disamping emosi dan intuisi. Ini berarti, bahwa alam seisinya ini adalah amanat Allah yang kelak akan minta pertanggung jawaban dari seluruh manusia yang selama hidupnya di dunia ini pasti terlibat dalam amanat itu.
Alam semesta adalah media pendidikan sekaligus sebagai sarana yang digunakan oleh menusia untuk melangsungkan proses pendidikan. Didalam alam semesta ini manusia tidak dapat hidup dan “mandiri” dengan sesungguhnya. Karena antara  manusia dan alam semesta saling membutuhkan dan saling melengkapi antara satu dengan yang lainnya. Dimana alam semesta ini butuh manusia untuk merawat dan memeliharanya sedangkan manusia butuh alam semesta sebagai sarana berinteraksi dengan manusia lainnya.
·           SARAN
Saya selaku pembuat makalah sangat mengharapkan kritik dan saran para pembaca makalah saya, agar dalam pembuatan makalah selanjutnya dapat lebih baik lagi.

DAFTAR PUSTAKA

Leaman Oliver. 1989. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali Pers. Hal 33
Tafsir Ahmad, 1990. Filsafat umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. Hal 49
Salam Burhanudin. 1988. Filsafat manusia (antropologi metafisika). Jakarta: Bina Aksara. Hal 149


[1] Leaman Oliver. Pengantar Filsafat Islam. Jakarta: Rajawali Pers. 1989. Hal 33

[2] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Al-Anbiya : 30
[5] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Fushilat : 11
[6]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S.Qaf : 38
[7]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S As-Sajadah: 4
[8] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S. Yunus : 3
[10] Tafsir Ahmad. Filsafat umum. Bandung: PT Remaja Rosdakarya. 1990. Hal 49
[11] Salam Burhanudin. Filsafat manusia (antropologi metafisika). Jakarta: Bina Aksara. 1988. Hal 149
[14]Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. Q.S Al Mulk: 3-4
[17] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. AlAn’am: 101-104
[18] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. Luqman:10
[19] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. An-Naba: 7
[21] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS.Ar-Rahman:19-20
[23] Quran in word ver 1.3. Mohamad Taufik. QS. Ath-Thalaq:12

FILSAFAT PROTAGORAS


PYTHAGORAS

A.    BIOGRAFI
Pythagoras adalah salah seorang sofis yang hidup tahun 481-411 Sebelum Masehi. Ia berasal dari Abdera daerah, Trake, yang kemudian datang di Athena.[1] Ada dua indikasi bahwa Pythagoras pernah berguru kepada Herakleis yaitu pertama tampak dalam caranya bersoal. Kedua, semboyan Herakleitos “Panta Rei” sering digunakan yang ditujukan kepada subjek yang mendatangkan pengetahuan (knowledge) karena dituduh atheisme ia dibuang dari Athena dan tenggelam ketika peranannya ke Sicilia.[2]

B.     PEMIKIRAN PYTHAGORAS
Bagi “Pythagoras” manusia itu adalah ukuran bagi segalanya, baik yang ada karena adanya. Bagi yang tidak ada karena tidaknya.[3] Maksudnya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendirinya. Kebenaran umum tidak ada. Pendapatku adalah hasil pandanganku sendiri. Apa ia juga benar bagi orang lain, sukar mengatakannya, boleh jadi tidak. Apa yang ku katakan baik boleh jadi jahat bagi orang lain; apa yang ku katakan bagus, boleh jadi buruk dalam pandangannya. Alam ku adalah bagiku sendiri. Orang lain mempunyai alamnya sendiri pula.
Pandangan berubah-ubah menurut yang dipandang, yang benar seorang besok barangkali tidak lagi. Bukan kejadian di dunia saja berlalu dan bergerak secaradrasa, tetapi juga pandangan manusia. Dan bukan barang yang dipandang itu saja bergerak, juga pancaindera yang memandang. Sebab itu tiap-tiap pandangan bergantung kepada dua macam. Mencari pengetahuan juga memandang, sekalipun memandang dari dalam dengan jiwa dan pikiran, sebagaimana pandangan mata berdasar kepada dua macam gerakan, demikian juga pandangan pikiran.[4]
Dalam bagian lain Pythagoras menegaskan bahwa pandangan itu memuat pengetahuan yang cukup mengenai benda yang dipandang, namun bahwa pengetahuan mengenai bendanya. Dengan demikian kita tidak mengetahui keadaan benda sebagaimana keadaan bendanya yang seluruhnya akan tetapi hanya sebagai rupa pandangannya dirinya sendiri. Keberatan pendirian Pythagoras ialah bahwa tiap-tiap buah pikiran yang lahir dari pandangan adalah benar, tetapi sekira-kiranya juga tidak. Ia hanya pada waktu memandang itu saja. Ia bahkan kebenaran umum, yang benar bagi segala orang dan bagi setiap waktu. Sebab itu segala pengetahuan manusia tidak mengandung kebenaran umum. Segala pengetahuan sifatnya relatif, tak ada buah pikiran yang benar semata-mata, dan oleh karena itu segala yang bertentangan adalah sama-sama kuat.[5]
Pythagoras juga menyampaikan ajaran tentang negara. Negara berdiri bukan karena hukum alam, tapi karena sengaja didirikan manusia. Pada waktu manusia masih hidup sendiri-sendiri, mereka sering mengalami kesukaran dan gangguan dari binatang-binatang liar. Manusia kemudian berkumpul di kota-kota untuk bersama-sama, mengatasi kesukaran dan gangguan yang ada. Ternyata dalam hidup bersama itu mereka menghadapi kesulitan baru, untuk itu mereka menetapkan “dike” / keadilan dan “aidos” / hormat. Kepada orang lain. Kemudian manusia menciptakan undang-undang. Jadi, dalam ajarannya tentang negara, Pythagoras juga berpegang bahwa manusia sah ukuran segala sesuatunya.[6]
Pythagoras meragukan adanya Allah-Allah (Tuhan). Pendapatnya tentang Allah-Allah dapat disebut skeptisisme, yang berarti tidak mungkin mencapai kebenaran. Hal ini cocok dengan relativisme yang diajarkannya. Karena, pendapatnya yang meragukan Allah-Allah itu, Pythagoras dituduh sebagai orang munafik dan buku-bukunya tentang agama dibakar.[7]

C.    PANDANGAN TERHADAP FILOSOF
Pandangan saya terhadap pemikiran Pythagoras yang menyatakan “Manusia itu adalah ukuran bagi segalanya, baik yang ada karena adanya, bagi yang tidak ada karena tidaknya, yang maksudnya bahwa semuanya itu harus ditinjau dari pendirian manusia sendiri-sendiri. Pendapat ku adalah bagi pandangan ku sendiri. Bagi prang lain sukar mengatakannya, boleh jadi tidak”.
Pendapat saya terhadap pemikiran Pythagoras seperti ini: didalam ilmu filsafat unsur-unsurnya tidak boleh mengandung uraian-uraian yang bertentangan satu sama lain. Koheren atau runtut didalamnya memuat suatu kebenaran logis. Sebaiknya, apabila suatu uraian yang didalamnya tidak memuat kebenaran logis, maka uraian tersebut dikatakan sebagai uraian yang tidak koheren atau runtut. Selain itu, filsafat pada hakikatnya bersumber pada : hakikat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial dan makhluk Tuhan). Filsafat sebagai pandangan hidup merupakan suatu pandangan hidup yang dijadikan dasar setiap tindakan dan tingkah laku dalam kehidupan sehari-hari, juga dipergunakan untuk menyelesaikan persoalan-persoalan yang dihadapi dalam hidupnya. Sikap dan cara hidup tersebut akan muncul apabila manusia mampu memikirkan dirinya sendiri secara total. Jadi, kesimpulannya saya kurang sependapat dengan pemikiran Pythagoras. Kita boleh mempunyai pendapat sendiri. Argumen sendiri atau pemikiran sendiri. Tetapi, didalam hakekat kodrat pribadi manusia (sebagai makhluk individu, makhluk sosial, dan makhluk Tuhan). Misalnya, masalah kenakalan remaja tidak boleh dipandang dengan satu pemikiran atau disiplin ilmu saja, tetapi beberapa disiplin ilmu: Ilmu agama, ilmu hukum, ilmu Andropologi, ilmu genetika dan lain-lain.[8] Sehingga tidak mungkin pandangan Protagotras dapat digunakan dalam memecahkan kehidupan masyarakat sehari-hari. Jika manusia itu tidak berinteraksi dan melakukan apapun sesuai keinginannya sendiri, maka dapat dibayangkan kehancuran yang akan timbul dari egoisme si manusia tersebut. Untuk mencari atau memperoleh pengetahuan hakikat, haruslah dilakukan dengan abstraksi. Sehingga akhirnya tinggal keadaan atau sifat yang harus ada (mutlak) yaitu substansi, maka pengetahuan hakikat dapat diperolehnya.[9] 
Sedangkan pendapat yang kedua, mengenai negara berdiri bukan karena hukum alam, tapi karena sengaja didirikan manusia. Saya sangat sependapat dengan pemikiran Pythagoras tersebut. Karena pada dasarnya manusia itu hidup berkelompok dan juga mempunyai pemikiran mensejahterakan dirinya. Dengan adanya perkembangan pengetahuan dan teknologi kita semakin ditantang dengan memberikan alternatifnya.
Dan yang terakhir Pythagoras meragukan adanya Allah-Allah (Tuhan) tentu saja saya tidak sependapat. Pendapatnya tentang Allah-Allah tersebut dapat disebut skeptisisme. Filsafat sejati haruslah berdasarkan pada agama. Masalah filsafat yang seperti itu adalah terkandung dalam agama. Apabila filsafat tidak berdasarkan pada agama dan filsafat hanya semata-mata berdasarkan atas akal pikir saja.[10] Sedangkan kesanggupan akal pikiran terbatas, sehingga filsafat yang hanya berdasarkan pada akal pikir semata-mata akan tidak sanggup memberi kebenaran bagi manusia, demikian dalam rangka pemahamannya terhadap yang gaib.

DAFTAR PUSTAKA

Drs. M.A.W Brauwer dan M.P Heryadi, B.Ph., Sejarah Filsafat Barat Modern & Sezaman, Bandung, 1986.

Drs. Sudarsono, S.H. M.Si., Ilmu Filsafat, Jakarta, 2001.

DR. Harun Hadiwijono, Sari Sejarah Filsafat Barat 1, Yogyakarta, 2001.

Sidi Gazalba, Sistematika Filsafat, Jakarta, 1992.



[1] Siti Gazaiba, Sistematika Filsafat, hal: 34

[2] Ibid, hal: 35

[3] Sudarsono, Ilmu Filsafat, hal: 39
[4] DR. M. Hatta, Alam Pikiran Yunani, Jilid II, hal: 1-2

[5] Ibid. op,cit: hal: 12
[6] M.A.W. Brouwer, Sejarah Filsafat Barat Modern & sezaman, hal. 20

[7] Ibid., hal: 20-21

[8] Asmara Achmadi, Filsafat Umum, hal: 5

[9] Ibid., hal: 56
[10] Nasrain, op.cit, hal: 47 

TOKOH-TOKOH FILSAFAT


A.    BIOGRAPHY EMILE DURKHEIM
1.      EMILE DURKHEIM (1858 – 1917)
Dari Prancis beliau adalah salah seorang tokoh penting yang memperkembangkan sosisologi dengan ajaran-ajarannya yang klasik. Di dalam teori-teorinya tentang masyarakat, Durkheim menaruh peranan yang besar terhadap kaidah-kaidah hukum yang dihubungkan dengan jenis-jenis solidaritas yang dijumpai dalam masyarakat (E. Durkheim 1964 : 68 dan seterusnya). Hukum dirumuskannya sebagai suatu kaidah yang bersanksi. Berat riangannya sanksi senantiasa tergantung dari sifat pelanggaran, anggapan-anggapan serta keyakinan masyarakat tentang baik buruknya suatu tinjakan dan peranan sanksi-sanksi tersebut dalam masyarakat. Dengan demikian, maka kaidah-kaidah hukum dapat diklasifikasikan menurut jenis-jenis sanksi yang menjadi bagian utama dari kaidah hukum tersebut. Di dalam masyarakat dapat ditemukan 2 kaidah hukum, yaitu represif dan restituatif.
Selain kaidah-kaidah hukum dengan sanksi-sanksi yang mendatangkan penderitaan, akan dapat dijumpai pula kaidah-kaidah hukum yang represif. Tujuan utama kaidah-kaidah hukum ini adalah untuk mengembalikan kaidah pada situasi semula (pemilihan keadaan), sebelum terjadi kegoncangan sebagai akibat dilanggarnya suatu kaidah hukum. Kaidah-kaidah hukum tersebut adalah kaidah-kaidah yang restituatif. Kaidah-kaidah tersebut mencakup hukum perdata, dan hukum dagang, hukum acara, hukum administrasi dan hukum tata negara setelah dikurangi dengan unsur-unsur pidananya.
Hubungan antara solidaritas sosial dengan hukum yang represif terletak pada tingkah laku yang menghasilkan kejahatan. Durkheim menerangkan bahwa setiap hukum tertulis mempunyai tujuan berganda yaitu untuk menetapkan kewajiban-kewajiban tertentu dan untuk merumuskan sanksi-sanksinya. Pertama-tama dirumuskannya kewajiban-kewajiban, dan kemudian baru ditentukan bagaimana bentuk sanksinya. Contoh kitab undang-undang hukum perdata Prancis yang menentukan hak-hak dan kewajiban-kewajiban suami istri: tetapi tidak dirumuskan sanksi-sanksinya apabila terjadi suatu pelanggaran. Sanksi-sanksinya harus dicari ditempat yang lain, atau bahkan mungkin sanksinya tak ada sama sekali. Sebaliknya di dalam hukum pidana hanya tercantum sanksi-sanksinya, tanpa ada perumusan mengenai kewajiban-kewajibannya. Didalam hukum pidana ditentukan dengan tegas, inilah hukumannya; sedangkan dalam hukum perdata diperhatikan, itulah kewajiban-kewajibanmu.
Menurut Durkheim dapat dibedakan dua macam solidaritas positif yang dapat ditandai oleh ciri-ciri sebagai berikut:
a). Pada solidaritas pertama, seorang warga masyarakat secara langsung terikat kepada masyarakat.
b).  Dalam hal solidaritas kedua tersebut masyarakat tidak dilihat dari aspek yang sama.
Dalam hal pertama, masyarakat merupakan kesatuan kolektif dimana terdapat kepercayaan dan perasaan yang sama. Sebaliknya pada hal kedua masyarakat merupakan suatu sistem yang terdiri dari bermacam-macam fungsi yang merupakan hubungan-hubungan yang tetap, sebetulnya keduanya merupakan suatu gabungan, akan tetapi dilihat dari sudut-sudut yang berbeda.
Dengan meningkatnya diferensi dalam masyarakat, reaksi kolektif yang utuh dan kuat terhadap penyelewengan-penyelewengan menjadi berkurang di dalam sistem yang bersangkutan oleh karena hukum yang bersifat represif mempunyai kecenderungan untuk berubah menjadi hukum yang restitutif.
2.      Kajian Sosiologi yang dapat diangkat dari teori Durkheim tersebut diatas adalah:
Ada beberapa unsur yang penting bagi perkembangan Sosiologi hukum. Pendapatnya tentang hukum yang bersifat represif akan berguna untuk memahami arti kejahatan dan efektivitas hukuman. Dalam hal ini jelaslah bagi kita bahwa pada umumnya suatu kejahatan menyebabkan terjadinya amarah dari bagian terbesar masyarakat yang berwujud suatu reaksi yang negatif.
Teori Durkheim sebagaimana dijelaskan secara singkat diatas berusaha untuk menghubungkan hukum dengan struktur sosial.
Hukum dilihatnya sebagai dpendent variabel yaitu suatu unsur yang tergantung pada struktur sosial masyarakat akan tetapi hukum juga dilihatnya sebagai suatu alat untuk mempertahankan keutuhan masyarakat maupun untuk menentukan adanya perbedaan-perbedaan dalam masyarakat. (V. Aubert 1969:11).
B.     Biography Max Weber
1.      Max Weber (1864 – 1920)
Seorang Jerman yang mempunyai latar belakang pendidikan dibidang Hukum yang memberi saham dalam perkembangan ilmu Sosiologi sangat banyak dan bersifat klasik.
Ajaran-ajaran Max Weber tentang sosiologi hukum sangat luas; secara menyeluruh ditelaahnya hukum-hukum Romawi, Jerman, Prancis, Anglo Sawon, Yahudi, Islam, Hindu, dan bahkan hukum adat Polinesia.
Sejalan dengan tujuan tersebut dia mempelajari pengaruh politik, agama dan ekonomi terhadap perkembangan hukum, serta juga pengaruh dari para teoritikus hukum, praktikus hukum maupun apa yang dinamakannya para honoratioren. Dengan demikian, maka suatu alat pemaksa menentukan bagi adanya hukum. Alat pemaksa tersebut ttidak perlu berbentuk badan peradilan sebagaimana yang dikenal di dalam masyarakat yang modern dan kompleks. Alat tersebut dapat berwujud suatu keluarga atau mungkin suatu clan, konuensi, sebagaimana dijelaskan diatas, juga meliputi kewajiban-kewajiban akan tetapi tanpa suatu alat pemaksa.
Selanjutnya Max Weber berusaha mengemukakan beberapa perbedaan dalam hukum yang masing-masing mempunyai kelemahan-kelemahan. Pertama-tama disebutnya perbedaan antara hukum publik dengan hukum perdata.
Suatu perbedaan lain adalah hukum positif dengan hukum alam. Apabila seseorang berpegangan pada definisi sosiologi sebagai ilmu yang menelaah fakta sosial, maka perhatiannya hanya terpusat pada hukum positif. Namun demikian seorang sosiolog tak mungkin melepaskan diri dari kenyataan bahwa hukum alam dapat memberi petunjuk pada latar belakang tingkah laku manusia.
Atas dasar penjelasan diatas dapat diambil kesimpulan bahwa rasionalnya hukum dapat bersifat formal dan material yang berarti bahwa hukum tak mungkin sempurna oleh karena semua pertentangan hukum bersumber pada pertentangan kedua jenis hukum tadi yang tidak terpecahkan. Jelaslah bahwa keadilan material semata-mata dapat mengakibatkan ketiadaan hukum. Sebaliknya suatu keadilan formal yang murni yang sama sekali tidak memakai pertimbangan hukum, sama sekali tidak ada.
2.      Kajian yang dapat diambil dari teori Max Weber diatas adalah:
Bagi Max Weber, hukum yang rasional dan formal merupakan dasar bagi suatu negara modern. Kondisi-kondisi sosial masyarakat yang memungkinkan tercapainya taraf tersebut adalah sistem kapitalisme dan profesi hukum. Proses  tersebut tak mungkin terjadi dalam masyarakat yang didasarkan pada kepemimpinan kharismatis atau dasar ikatan darah, oleh karena proses mengambil keputusan pada masyarakat-masyarakat tadi mudah dipengaruhi unsur-unsur yang irrasional.
C.    BIOGRAPHY KARL MARX
1.      KARL HEINRICH MARX
(Lahir 5 Mei 1818, Trier, Propinsi Rhine, Prussia [Jerman], Aidied 14 Maret 1883, London) revolusioner, sosiolog, sejarahwan, dan ekonom. Ia menerbitkan (dengan Friedrich Engels) Manifest der Kommunistischen Partei (1848), umumnya diknela sebagai The Manifesto Komunis, Pamflet yang paling terkenal dalam sejarah gerakan sosialis. Ia juga adalah penulis buku gerakan yang paling penting, Das Kapital. Tulisan-tulisan dan lain-lain oleh Marx dan Engels membentuk dasar tubuh pemikiran dan kepercayaan yang dikenal sebagai Marxisme.
Sosialisme artikel dan Komunisme untuk pengobatan penuh dari ideologi.

Awal tahun
Karl Heinrich Marx adalah anak tertua dari sembilan anak-anak. Ayahnya, Heinrich, seorang pengacara sukses, adalah orang Pencerahan, yang ditujukan untuk Kant dan Voltaire, yang mengambil bagian dalam agitasi untuk konstitusi di Prusia. Ibunya, lahir Henrietta Pressburg, berasal dari Belanda. Kedua orang tua Yahudi dan keturunan dari garis panjang rabi, tetapi, satu tahun atau lebih sebelum Karl lahir, ayahnya, Aiprobably karena karir profesionalnya diperlukan itu, Aiwas dibaptis dalam Gereja Injili Didirikan. Karl dibaptis ketika ia berusia enam tahun. Meskipun sebagai seorang pemuda Karl kurang dipengaruhi oleh agama dari oleh, kebijakan kritis sosial kadang-kadang radikal dari Pencerahan, latar belakang Yahudinya dia terkena prasangka dan diskriminasi yang mungkin membuatnya mempertanyakan peran agama dalam masyarakat dan memberikan kontribusi terhadap keinginannya untuk perubahan sosial. Marx dididik 1830-1835 di sekolah tinggi di Trier.
2.      Kajian yang dapat diangkat dari teori karl Marx diatas adalah:
Meskipun Karl Marx dianggap sebagai seorang pemuda yang kurang dipengaruhi oleh agama, serta latar belakang Yahudinya beliau terdiskriminasi yang mungkin dapat membuatnya patah semangat, tetapi beliau tetap yakin dan bisa memberikan hal yang paling baik untuk masyarakat serta memberikan kontribusi terhadap keinginannya untuk perubahan sosial.
D.    BIOGRAPHY GEORG SIMMEL (1858-1918)
Georg Simmel lahir pada tanggal 1 Maret 1958, di jantung Berlin, sudut  Leipzigerstrasse dan Friedrichstrasse. Ini adalah tempat kelahiran penasaran - itu sesuai dengan Times Square di New York – tetapi tampaknya simbolis pas untuk seorang pria yang sepanjang hidupnya tinggal di persimpangan. Simmel adalah orang kota modern, tanpa akar dalam budaya rakyat tradisional.
Setelah membaca buku pertama Simmel’s, F. Toennies menulis kepada teman: “Buku ini cerdas tetapi memiliki rasa kota metropolitan”. Seperti “orang asing” ia menggambarkan dalam esai cemerlang dengan nama yang sama.
Simmel adalah bungsu dari tujuh bersaudara. Ayahnya, seorang pengusaha Yahudi sejahtera yang telah menjadi Kristen, meninggal saat Simmel masih muda.
Setelah lulus dari Gymnasium, Simmel mempelajari sejarah dan filsafat di Universitas Berlin dengan beberapa tokoh akademik yang paling penting pada saat ini. Pada saat ia menerima gelar doktor dalam filsafat pada tahun 1881 (tesisnya berjudul “Sifat Materi Menurut Kant Fisik Monadology”), Simmel akrab dengan bidang luas pengetahuan membentang dari sejarah hingga filsafat dan dari psikologi dengan ilmu sosial.
Sangat terikat pada lingkungan intelektual Berlin, baik di dalam maupun di luar universitas, Simmel tidak mengikuti contoh orng-orang akademik Jerman yang biasanya pindah dari satu universitas ke universitas lain baik selam masa studi mereka dan setelah, melainkan, ia memutuskan untuk tinggal di Universitas Berlin, di mana ia menjadi Privatdozent (seorang dosen yang belum dibayar tergantung pada iuran sekolah).
Dia adalah seorang dosen sangat populer dan kuliah segera menjadi peristiwa intelektual terkemuka, tidak hanya bagi mahasiswa tetapi untuk elit budaya Berlin. otoritas akademik akhirnya setuju untuk memberinya pangkat Ausserordentlicher Professor, gelar kehormatan yang masih murni itu tidak mengijinkan dia untuk mengambil bagian dalam urusan komunitas akademik dan gagal untuk menghapus stigma dari luar.
Ia memainkan peran aktif dalam kehidupan intelektual dan budaya ibukota, sering mengunjungi salon banyak modis dan berpartisipasi di kalangan berbagai budaya. Dia menghadiri pertemuan para filsuf dan sosiolog dan co-founder, dengan Weber dan Toennies, masyarakat Jerman Sosiologi. Dia membuat banyak teman di dunia seni dan surat-surat, dua penyair terkemuka Jerman, Rainer Maria Rilke dan Stefan George, adalah teman pribadinya.
Mengingat sukses besar Simmel sebagai dosen, pasti sangat menyakitkan hati kepadanya bahwa ketika ia akhirnya mencapai tujuannya akademik. Minat Simmel dalam urusan saat ini dan dalam isu-isu sosial dan politik sangat minim. Ada satu pengecualian utama, namun dengan pecahnya perang, Simmel melemparkan diri ke dalam propaganda perang dengan intensitas penuh gairah.
Beberapa tulisan Simmel masa perang adalah agak menyakitkan untuk membaca, memancarkan semacam superpatriotism begitu asing untuk posisi sebelumnya terpisah. Namun untuk beberapa tahun kemudian ia menerbitkan terutama dalam bidang etika dan filsafat sejarah, kembali ke sosiologi hanya di kemudian tanggal.
Ini memang apa yang terjadi, Simmel’s pengaruh pada perkembangan lebih lanjut dari kedua filsafat dan sosiologi, Simmel sangat tertarik generasi ke generasi pendengar terpesona, tapi nyaris tidak ada orang yang akan menyebut dirinya sebagai seorang murid.

 

©2009 CERAMAH | by TNB