Jumat, 04 November 2011

FILSAFAT VITALISME


PEMBAHASAN
VITALISME

A.    Sejarah Singkat Vitalisme
Vitalisme merupakan suatu doktrin yang menyatakan adanya kekuatan di ular alam. Kekuatan tersebut memiliki peranan yang esensial mengatur segala sesuatu yang terjadi di alam semesta ini (misalnya Tuhan). Pendapat ini ditantang oleh beberapa orang lain karena dalam ilmu alamiah dikatakan bahwa segala sesuatunya harus dapat dianalisis secara eksperimen.[1]
Aliran Vitalisme ini juga sebuah perbuatan baik menurut aliran ini adalah orang yang kuat, dapat memaksakan dan menekankan kehendaknya agar berlaku dan ditaati oleh orang-orang yang lemah. Manusia hendaknya mempunyai daya hidup atau vitalitas untuk menguasai dunia dan keselamatan manusia tergantung daya hidupnya.
Vitalisme juga memandang bahwa kehidupan tidak sepenuhnya dijelaskan secara fisika, kimiawi, karena hakikatnya berbeda dengan yang tak hidup. Henry Bergson (1958-1941) menyebutkan Elan Vital. Dikatakan bahwa Elan Vital merupakan sumber dari sebab kerja dan perkembangan dalam alam. Asa hidup ini memimpin dan mengatur gejala hidup dan menyesuaikannya dengan tujuan hidup. Oleh karena itu Vitalisme sering juga dinamakan finalisme.[2]
Adapun tokoh dalam aliran Vitalisme ini yaitu Henry Bergson. Hanya satu filosofis yang dapat kami temukan, itu juga riwayatnya masih kurang diketahui kami.
B.     Berson
Berson adalah seorang filfus ternama di abad 20 yang menuliskan tentang metafisika, baginya pengetahuan yang mengabsolutkan adalah pengetahuan yang karena intuisi dan pemikiran rasional merupakan suatu pemikiran yang lebih banyak salah atau palsu.
Komentar:
Kami tidak setuju dengan Bergson yang menyatakan pemikiran yang menyatakan pemikiran yang lebih banyak salah atau palsu. Bergson berpendapat seperti itu karena ia ingin mendobrak filsuf untuk memperoleh popularitas untuk mendapatkan hadiah untuk karya literaturnya.
Sedangkan kami disini lebih menekankan pada pola pikiran yang rasional untuk menekankan sebuah persoalan sehingga menghasilkan intuisi yang berupa pemahaman yang ditangkap oleh panca indra yang bersifat nyata.
C.    Dasar Pemikiran Bergson
Filsafat Bergson sangat dipengaruhi oleh teori evolusi Darwin. Ia mengatakan bahwa cara manusia bertindak lebih dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Darwin menekankan bahwa manusia yang sekarang ini merupakan suatu hal yang dialami dalam menjalankan proses hidup. Karakter semacam ini merupakan suatu hal yang alami dalam menjalankan proses hidup. Hal ini bisa terjadi karena ada keterbukaan atau kebahagiaan dalam bertahan hidup.
Bergson memandang bahwa intelek itu sebagai suatu instrumen atau alat yang digunakan untuk membantu atau meningkatkan kehidupan.
      Komentar:
Dalam pemikiran Bergson kami sependapat alasannya sebagian pemikiran Bergson tersebut merupakan evolusi dari teori Darwin yang hanya menonjolkan fikir yang berintelek sehingga mampu membantu manusia untuk beradaptasi dirinya dengan dunianya dn juga mempermudah dalam bertingkah laku di masyarakat.
Yang ditekankan Bergson dalam aliran ini adalah mengacu pada pikiran, perasaan, persepsi, dan kemauan yang secara alami dapat berubah. Perubahan tersebut dapat membawakan kesenangan baru bagi setiap individu.
1.      Pandangan akan waktu
Mengenai waktu, bergson membedakan dua jenis waktu murni dan waktu matematis, waktu murni merupakan durasi yang sebenarnya sedangkan waktu matematis adalah durasi yang terukur.
Sifat waktu itu continue dan tak dapat di bagi dan waktu matematis sebaliknya yang dapat di bagi menjadi beberapa unit dan interval. Nalisa matematis terhadap waktu murni akn membuat kekacauan dalam waktu. Eaktu murni tidak bisa di intelektualisasi karena dengan mengalami durasinya berarti memalsukan waktu hanya bisa di alami secara intuitif bukan intelektual.
Komentar:
Disini Bergson juga menjelaskan pola pikirnya yaitu pandangan akan waktu. Kami tidak setuju dengan Bergson yang memandang waktu hanya sebagai suatu perubahan secara terus menerus, oleh karena itu perubahan waktu yang tidak jelas akan menimbulkan segala sesuatu kejadian-kejadian atau peristiwa hidup dapat berubah dan perubahan yang terjadi menimbulkan adanya kebebasan dalam bertindak.
2.      Intuisi dan intelek
Intelek dan intuisi adalah dua jenis pengetahuan yang berbeda. Prinsip sains dimasukan dalam kategori intelek dan prinsip-prinsip matafisika merupakan intuisi. Bergson mengatakan bahwa intuisi ini jangan disamakan dengan perasaan dan emosi secara harfiah. Dalam hal ini Bergson ingin mengatakan bahwa kenyataan absolut itu yang dikuak oleh intuisi metafisis. Ini juga dapat dimaksudkan bahwa dengan intuisi kita akan mendapatkan bentuk pengetahuan yang menyatakan realitas itu continue dan tak dapat berbagi. Realitas akan selalu berubah karena dalam hidup manusia akan selalu ada kebenaran akan kreativitas.[3] 
3.      Élan Vital
Bergson mengatakan bahwa disitu ada proses élan vital atau day hidup. Dengan élan vital evolusi di bawa menuju ke tingkat yang lebih tinggi yaitu menuju keteraturan. Hal ini merupakan sebab mendasar terciptanya species-species yang bervariasi dan juga merupakan prinsip pokok eksistensi. Adanya variasi species lebih jelasnya karena ada ledakan-ledakan daya hidup karena proses evolusi itu sendiri tidak pernah linier. Maka pada saat itu ada tiga jenis utama garis evolusi yang memungkinkan yaitu tumbuhan, serangga, manusia. Manusia merupakan evolusi yang terbaik dan terkuat karena ia memiliki vitalisme.
Proses evolusi merupakan proses dinamis. Maka bisa dikatakan bahwa konsep intelek tidaklah cukup untuk mengatasi proses ini. Élan Vital diasumsikan Bergson sebagai energi primal yang mulai menjadi hilang atau pudar. Materi, sebaliknya menjadi didevetalisasi. Maksudnya untuk memulai melepaskan diri dari dunia materi atau dari determinisme materi.
Élan vital diasumsikan Bergson sebagai energi primal yang mulai menjadi hilang dan pudar. Salah satu fungsi intelek adalah untuk menghadirkan materi yang terus berubah dalam suatu samaran yang statis. Maka segala sesuatu di sekitar manusia sekarang ini merupakan hasil atau residu dan proses Élan Vital sebelumnya. 
4.      Anti-Intelektualisme Bergson
Akhir pandangan Bergson ini lebih banyak dipandang sebagai suatu pandangan anti intelektual walaupun Bergson sendiri menyangkal dan mengatakan bahwa metafisikanya merupakan  suatu pelengkap dan bukan lawan dari rasionalisme.
Kontribusi Bergson dalam dunia filsafat terletak pada pemahaman kebebasan manusia untuk ber kreativitas secara realistik. Pandangannya memang tidak terlalu berpusat pada pikiran atau rasio melainkan ia lebih menekankan pengalaman.
Vitalisme, suatu teori yang menyatakan bahwa yang mendasari fenomena vital bukan materi[4]. Akhir pandangan Bergson ini lebih banyak dipandang sebagai suatu pandangan anti intelektual walaupun Bergson sendiri menyangkal dan mengatakan bahwa Metafisika merupakan suatu pelengkap dan bukan melawan dari rasionalisme. Intelek memang mampu memberikan pengetahuan kepada kita tetapi lebih baik lagi bila pengetahuan itu juga di dapat dengan intuisi.
Dengan intuisi ruang sekitar pemikiran Bergson diasumsikan tidak seintifik. Konsep intuisi, durasi dan kebebasan diartikan sebagai konsep yang melawan intelektualisme, determinisme, mekanisme, walaupun ia sendiri menyangkal pemikiran semacam itu, hanya ia menambahkan bahwa berkembang aspek-aspek spiritual di dalamnya.
KOMENTAR
Menurut kami, kami dapat menganalisis pemikiran dari Bergson dia lebih menekankan proses intuitif sebagai proses menemukan realitas.
Kami juga setuju Bergson dapat membuktikan pemikirannya dengan beberapa konsep waktu, misal waktu murni dan waktu terukur. Konsep Bergson dalam dunia filsafat terletak pada kebebasan manusia untuk ber kreativitas secara realistik.
Dengan adanya intuisi dan intelek seseorang. Seseorang mendapatkan bentuk pengetahuan dengan adanya pandangan atau arahan dari Bergson.
Hal seperti itu karena proses menemukan realitas dianggap subjectivitas dicoba di redaksi. Pada zaman itu pemikiran Bergson memanglah sangat menarik. Dalam aliran ini juga Bergson mulai memikirkan lebih dalam dan di Metafisika. Bergson juga mengajarkan bahwa akan selalu ada kemungkinan untuk mengetahui segala sesuatu secara factual. Intuisi inilah dapat membawa manusia untuk mengetahui sesuatu dalam dirinya.


DAFTAR PUSTAKA

Tim Dosen, Filsafat Ilmu Fakultas, UGM, Liberty Yogyakarta Tahun 2007

http:/endahbw.Blogspot.com/2009/03 Filsafat Dalam Perspektif Sejarah.

http://Amazingfilsafat Blogspot.com/2007/04. Henry Bergson antara intelek.


[1] http:/endahbw.Blogspot.com/2009/Filsafat Dalam Perspektif Sejarah.
[2] Filsafat Ilmu, Tim Dosen Filsafat Ilmu Fakultas, UGM, Liberty Yogyakarta Tahun 2007, hal. 38.
[3] http://Amazingfilsafat Blogspot.com/2007/04. Henry Bergson antara intelek.
[4] Drs.Sudarsono, SH. Kamus Filsafat dan Psikologi, PT RINEKA CIPTA, Jakarta. 1993.

0 komentar:

Poskan Komentar

 

©2009 CERAMAH | by TNB